Bertahun-tahun masyarakat dibikin limbung pada kebenaran sejarah. Kebenaran cukup terhenti pada toksik perawi yang ulung. Bukan cuma kita yang tak punya kepala, bangsa ini sendiri tengah mencari kepalanya. Selama ini, orang-orang baru berjalan berdasarkan pada perintah dan warisan cerita yang tak sangkil. Abu-abu. Mereka digiring dalam satu komando kekuasaan. Perlu waktu yang lama bagi siapa pun penjahat kemanusiaan membalut lukanya sedemikian rapi, biar perihnya tiada kentara. Penjahat kemanusiaan tidak punya identitas tunggal, tak kiri atau kanan, sama saja perlu diadili. Anak-anak zaman itu, adalah korban dari politik tulis punggung. Mereka bocah-bocah ingusan yang masih banyak waktu untuk mengembalakan impian-impiannya. Jangan renggut haknya, kasihanilah mereka. Sepasang sejoli itu jadi tumbal dosa warisan, dari sepasang tua yang sejak lama bersilang haluan. Apa untungnya mereka diwarisi kemarahan, jika bukan saling melanggengkan masa lampau yang gelap. Biarlah perkawinan mereka berjalan, lahir anak-anak baru dari rahim masa depan yang baru. Kelak dialah cucu yang memutus mata rantai kebencian bagi dua kakeknya yang sama-sama punya cita-cita. Lalu kita sebagai patung yang lahir dari tangan pematung delusif, berbahagialah, kepala kita adalah masa depan tanpa kebencian, konklusi tanpa kesanksian.
Semua orang sudah buta. Orang buta hanya butuh tongkat, bukan cahaya.
Copyright © 2025 Buku Pocket. All Rights Reserved.